Home » Berita » Bisnis » Emas Sentuh Rekor Tertinggi, Namun Dolar Kuat Tarik Koreksi Harga

Emas Sentuh Rekor Tertinggi, Namun Dolar Kuat Tarik Koreksi Harga

Oleh

Gambuta Mining Niaga

Harga emas dunia mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, menyentuh angka USD 3.500,05 per troy ons (sekitar Rp 58,8 juta dengan kurs Rp 16.800 per USD), sebelum mengalami koreksi lebih dari 1 persen pada Selasa (22/4) malam waktu setempat. Penurunan ini terjadi setelah pernyataan Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, yang menyebutkan kemungkinan mereda nya ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok.

Pernyataan Bessent tersebut memicu euforia di pasar saham global. Penguatan dolar AS dan penurunan minat terhadap aset safe haven seperti emas turut berkontribusi terhadap koreksi harga emas. Bob Haberkorn, analis senior di RJO Futures, menyatakan bahwa pernyataan Bessent menjadi momen di mana investor mulai menjual emas.

Indeks dolar AS menguat 0,7 persen, membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Saham AS juga melonjak lebih dari 2 persen, didorong oleh optimisme atas kemungkinan negosiasi tarif baru yang lebih lunak antara AS dan Tiongkok. Spot gold, yang sebelumnya naik 2,2 persen ke USD 3.500 per ounce, akhirnya turun ke USD 3.372,68, sementara futures emas ditutup melemah 0,2 persen di USD 3.419,40.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Lonjakan dan Koreksi Harga Emas

Meskipun mengalami koreksi, harga emas tetap melonjak 29 persen sejak awal tahun dan mencatatkan rekor tertinggi ke-28 sepanjang tahun 2025. Bank investasi JPMorgan bahkan memperkirakan emas akan menembus USD 4.000 pada tahun depan, seiring meningkatnya risiko resesi global dan ketegangan perdagangan yang masih tinggi. Faktor fundamental seperti inflasi yang tinggi dan ketidakpastian ekonomi global tetap menjadi pendukung utama harga emas.

Di Tiongkok, harga emas batangan mencapai USD 3.535 per ounce, mencetak rekor ke-9 berturut-turut di Shanghai. Namun, otoritas Tiongkok mengeluarkan peringatan terhadap perdagangan yang dianggap irasional dan Bank of China menaikkan batas minimal pembelian emas untuk nasabah ritel. Hal ini mengindikasikan upaya pemerintah Tiongkok untuk mengurangi spekulasi dan menjaga stabilitas pasar.

Peran Ketegangan Geopolitik

Ketegangan antara Presiden AS Donald Trump dan Ketua The Fed Jerome Powell juga berperan dalam mendorong harga emas. Kritik Trump terhadap Powell dan desakannya untuk menurunkan suku bunga memicu kekhawatiran pasar atas independensi bank sentral. Ketidakpastian ini semakin memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Meskipun indikator RSI emas menunjukkan kondisi overbought (level 74), beberapa bank investasi tetap optimistis bahwa tren kenaikan harga emas akan berlanjut. Koreksi harga emas yang terjadi dinilai sebagai penyesuaian sementara sebelum kembali menguji level yang lebih tinggi.

Prospek Harga Emas ke Depan

Analis memperkirakan koreksi ini hanyalah jeda sementara sebelum emas kembali menguji level harga yang lebih tinggi. Ketegangan geopolitik yang berkelanjutan, ancaman inflasi global, dan ketidakpastian arah suku bunga serta tarif perdagangan akan terus mendukung harga emas. Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, emas tetap menjadi aset investasi yang menarik.

Kesimpulannya, pergerakan harga emas sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari sentimen pasar, kebijakan pemerintah, hingga dinamika geopolitik. Meskipun terjadi koreksi, prospek harga emas jangka panjang masih menjanjikan, terutama jika ketidakpastian global tetap tinggi. Emas, sebagai aset safe haven, akan terus menjadi pilihan investasi yang menarik di tengah situasi ekonomi yang bergejolak.

Perlu diingat bahwa analisis ini bersifat umum dan tidak menjamin hasil investasi di masa depan. Keputusan investasi harus didasarkan pada riset dan pertimbangan risiko masing-masing individu.

Share:

Tinggalkan komentar