Home » Berita » Bisnis » Kepemilikan Cengdong di BUMI Menyusut, Saham Masih Dibayangi Tekanan di Tengah Pelemahan IHSG

Kepemilikan Cengdong di BUMI Menyusut, Saham Masih Dibayangi Tekanan di Tengah Pelemahan IHSG

Oleh

Gambuta Mining Niaga

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah kepemilikan investor Cengdong dilaporkan tinggal sekitar 2,8 persen. Penyusutan porsi saham tersebut memicu spekulasi mengenai arah pergerakan harga BUMI ke depan, terutama jika aksi jual berlanjut hingga kepemilikan habis.

Di tengah sentimen tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini ditutup melemah 0,4 persen ke level 8.274,08. Pergerakan indeks dinilai turut memengaruhi ruang gerak saham-saham berkapitalisasi besar maupun sektor energi, termasuk BUMI.

Mengacu laporan CNBC Indonesia, kepemilikan Cengdong di BUMI terus berkurang dalam beberapa waktu terakhir. Jika tren penjualan berlanjut, pasar memperkirakan dalam satu hingga dua bulan ke depan investor tersebut berpotensi keluar sepenuhnya dari emiten batu bara tersebut.

Tekanan Jual Tahan Kenaikan Harga

Secara teknikal, BUMI masih berada dalam tren naik jangka panjang dengan posisi tertinggi di area 484. Namun sejak menembus ke bawah level 354 pada Januari lalu, tren naik minor dinilai berakhir dan saham memasuki fase koreksi.

Pada awal Februari, harga sempat menyentuh level 198 sebelum akhirnya rebound ke kisaran 300. Meski terjadi pemulihan, laju kenaikan dinilai belum menunjukkan penguatan signifikan.

Area 328 menjadi target terdekat untuk menutup celah harga (gap). Sementara jika kembali terkoreksi, rentang 250–230 disebut sebagai area yang dinilai menarik secara rasio risiko dan imbal hasil, dengan batas stop loss di bawah 198.

Bagi investor yang telah memegang saham BUMI, level 284 menjadi titik krusial. Jika harga ditutup di bawah area tersebut, peluang pelemahan lanjutan ke kisaran 260 atau lebih rendah kembali terbuka.

IHSG Masih Jadi Faktor Penentu

Selain faktor internal, pergerakan BUMI juga sangat dipengaruhi kondisi IHSG. Indeks sempat menguat pada awal sesi, tetapi gagal bertahan di atas level 8.300. Jika koreksi berlanjut hingga menembus 8.171, tekanan jual berpotensi membawa indeks ke bawah 8.000.

Meski demikian, target optimistis IHSG masih berada di kisaran 8.400–8.500 menjelang periode Ramadhan dan Lebaran, dengan catatan mampu kembali ke jalur penguatan.

Saham Lain Masuk Radar Trader

Sejumlah saham lain turut menjadi perhatian pelaku pasar dalam perdagangan harian. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mencatatkan pergerakan intraday yang memberikan peluang transaksi jangka pendek.

Sementara itu, saham PT GTS Internasional Tbk (GTSI) juga menjadi sorotan setelah berhasil keluar dari tren turun minor dengan menembus level 266 dan membuka peluang menuju area 322. Namun jika kembali melemah dan ditutup di bawah 220, potensi koreksi lanjutan masih terbuka.

Beberapa saham lain seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) serta emiten sektor energi seperti PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) juga masuk dalam daftar pantauan dengan strategi buy on weakness dan disiplin manajemen risiko.

Menanti Arah Setelah Cengdong Keluar

Pelaku pasar kini menanti dampak lanjutan jika Cengdong benar-benar melepas seluruh kepemilikannya di BUMI. Secara teori, hilangnya tekanan jual rutin dapat menjadi katalis positif bagi harga saham.

Namun, analis menilai kenaikan tetap bergantung pada kekuatan permintaan baru dan sentimen fundamental perseroan. Tanpa dukungan minat beli yang kuat, pergerakan harga berpotensi tetap terbatas.

Dalam kondisi IHSG yang masih melemah, pelaku pasar disarankan mengedepankan strategi manajemen risiko seperti trailing stop, stop loss, dan take profit, terutama bagi trader jangka pendek. Pasar saham dinilai tetap bergerak berdasarkan probabilitas, sehingga kehati-hatian menjadi kunci di tengah volatilitas.

Share:

Tinggalkan komentar