Harga emas dunia mengalami penurunan tajam dalam dua hari terakhir, seiring meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China. Berdasarkan data dari CNBC Indonesia, pada penutupan perdagangan Senin (12/5), harga emas turun sebesar 2,72% ke level US$3.233 per troy ons.
Koreksi harga emas berlanjut sejak akhir pekan lalu. Pada Minggu malam (11/5) pukul 22:00 WIB, harga emas tercatat merosot 1,56%, dan kembali turun 1,68% keesokan paginya, Senin (12/5) pukul 07:00 WIB.
Namun, pada awal perdagangan Selasa (13/5) pukul 06:19 WIB, harga emas tercatat sedikit rebound sebesar 0,01% menjadi US$3.234 per troy ons.
Penurunan harga emas terjadi seiring meningkatnya minat risiko (risk appetite) investor global setelah adanya kesepakatan penting antara AS dan China. Dalam pertemuan dagang di Jenewa, kedua negara menyepakati pengurangan tarif secara signifikan selama 90 hari ke depan. Pemerintah AS memangkas tarif atas barang-barang China dari 145% menjadi 30%, sementara China menurunkan tarif atas produk AS dari 125% menjadi 10%.
Langkah ini dipandang sebagai sinyal positif dalam meredakan konflik dagang yang telah lama membebani pasar global. Investor pun mulai beralih dari aset safe haven seperti emas menuju aset-aset berisiko yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Selain faktor perdagangan, pelemahan harga emas juga dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS (DXY) sebesar 1,44% serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury). Keduanya membuat daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil menjadi semakin berkurang.
Meski harga emas melemah tajam, sejumlah analis menilai kondisi ini belum menjadi sinyal untuk melepas kepemilikan emas secara keseluruhan. Ketidakpastian ekonomi global, gejolak geopolitik, dukungan pembelian dari bank sentral, serta potensi tekanan inflasi masih menjadi faktor pendukung harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.
Meskipun harga emas dunia tengah dalam tekanan, prospek jangka panjangnya masih tetap menjanjikan. Investor disarankan tetap mempertahankan diversifikasi portofolio dan menjadikan emas sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko di tengah ketidakpastian global.








